BI Tahan Bunga Acuan, Pengamat: Waspadai Potensi Pelemahan Rupiah

kebijakan BI pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi terjaga. Namun ada sisi lain yang mengancam.

Ananta Bangun
Kamis, 21 Juli 2022 | 18:23 WIB
BI Tahan Bunga Acuan, Pengamat: Waspadai Potensi Pelemahan Rupiah
Pengamat ekonomi sumut (Istimewa)

Deli.Suara.com - Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang masih menahan besaran bunga acuan di level 3.5 persen berdampak pada IHSG yang sedikit menguat.

Sementara mata uang rupiah terpantau mengalami pelemahan. Rupiah diperdagangkan dikisaran 15.034 per US Dolar. IHSG justru hanya ditutup melemah 0.15% di level 6.864,13.

Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan BI pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi terjaga. Namun ada sisi lain yang mengancam.

"Ekspektasi tersebut perlu dipelihara, mengingat sangat berpeluang menekan kinerja mata uang rupiah maupun IHSG," kata Gunawan, Kamis (21/7/2022).

Baca Juga:Sudah Kantongi Rekaman CCTV, Ini Lima Fakta Tewasnya Brigadir J yang Diduga Lakukan Pelecehan ke Istri Ferdy Sambo

Menurut Gunawan, yang perlu diwaspadai adalah potensi inflasi akibat pelemahan mata uang rupiah. 

Disamping itu, kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan tanah air seperti mineral tambang dan minyak nabati memang masih berpeluang menyumbang devisa.

Devisa tersebut, kata Gunawan, nantinya bisa diperuntukan untuk menahan laju pelemahan rupiah. Untuk itu, pelaku pasar akan lebih berhati hati lagi serta mewaspadai kemungkinan terjadinya tekanan lanjutan. 

Karena setelah BI mempertahankan besaran bunga acuan, tekanan di pasar keuangan akan berlanjut terlebih di pekan depan Bank Sentral AS diperkirakan akan menaikkan besaran bunga acuannya.

"Sejauh ini, saya melihat tekanan di pasar keuangan akan membesar di pekan depan. Meskipun rupiah yang di 15 ribuan per US Dolar menurut hemat saya masih dalam posisi yang aman, namun sentimen pasar kedepan semakin sulit untuk dikendalikan, terlebih sentimen eksternal yang dipicu oleh kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS," tegasnya.

Baca Juga:Kejahatan Siber di Indonesia Meningkat Tajam di Masa Pandemi Covid-19

Di sisi lain, bukan hanya rupiah dan IHSG yang berada di abwah tekanan. Harga emas dunia juga terpantau turun dan diperdagangkan di bawah level psikologis $1.700 per ons troynya. 

Harga emas saat ini terpuruk di level $1.685 per ons troy, yang berarti dengan beberapa kemungkinan besar kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS, harga emas masih dalam tren turun atau bearish.

"Harga emas saat ini ditransaksikan di kisaran level Rp 817 ribu per gramnya. Dengan ekspektasi beberapa kali lagi kenaikan bunga acuan The FED hingga tahun 2023, maka emas berpotensi untuk terus melemah ke depan. Ini bukan kabar baik bagi investor emas," tandasnya.

BERITA TERKAIT

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak