Amerika Serikat Masuk Jurang Resesi, Pengamat: Picu Pelemahan Rupiah

resesi Amerika Serikat ini berdampak kepada pelemahan rupiah.

Ananta Bangun
Jum'at, 15 Juli 2022 | 11:26 WIB
Amerika Serikat Masuk Jurang Resesi, Pengamat: Picu Pelemahan Rupiah
Unsplash.com/Mufid Majnun

Deli.Suara.com - Amerika Serikat dipastikan masuk ke jurang resesi dimana inflasi naik melebihi ekspektasi. Realisasi inflasi di negeri Paman Sam pada bulan Juni 2022 mencapai 9.1 persen secara Year on Year.

Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, resesi Amerika Serikat ini berdampak kepada pelemahan rupiah.

"Hal ini menjadi masalah baru bagi mata uang rupiah. Rupiah yang sebelumnya sempat cukup tenang dikisaran bawah 15 ribu per US Dolar, terpaksa berbalik dan menembus level psikologis 15 ribu," ujarnya, Jumat (15/7/2022).

Meski demikian, Gunawan menilai pelemahan rupiah saat ini terbilang wajar seiring dengan tingginya harapan kenaikan bunga acuan di Amerika Serikat.

Baca Juga:4 Ciri Kamu Sudah Menjadi Pribadi Bertumbuh, Merasa Tak Puas!

Menurut Gunawan, di pekan depan Bank Indonesia juga akan melakukan penyesuaian kebijakan bunga acuan.

"Yang saya perkirakan BI Repo Rate akan dinaikkan setidaknya sebesar 50 basis poin. Dan dipekan selanjutnya The FED akan menaikkan bunga acuannya," jelasnya.

Setelah serangkaian kebijakan penyesuaian bunga acuan tersebut, kata Gunawan, baik yang dilakukan BI maupun The FED, maka Rupiah nantinya masih mampu bertahan dikisaran 15 ribu per US Dolarnya.

"Saya menilai kebijakan BI itu sangat efektif dalam meredam gejolak pasar yang dipicu oleh kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS," ujarnya.

"Kita juga tidak bisa berharap banyak bahwa mata uang Rupiah harus menguat di tengah tingginya kebijakan suku bunga acuan di banyak belahan negara di dunia ini," sambungnya. 

Baca Juga:Prakiraan Cuaca Sumut Jumat 15 Juli, Berawan dan Hujan Ringan Pada Malam Hari

Ditambah lagi ada ancaman resesi yang bisa saja membuat kinerja ekonomi makro nasional yang terjebak dalam stagflasi justru bisa berubah menjadi resesi nantinya.

Sejauh ini, kata Gunawan, kinerja mata uang Rupiah memang masih tertolong oleh kenaikan harga komoditas ekspor nasional seperti migas, batu bara, hingga CPO yang menambah besaran cadangan devisa.

Tetapi saat negara lain resesi, kata Gunawan, permintaan akan komoditas ekspor tanah air bisa saja berkurang. 

Harga bisa saja berbalik turun, dan intervensi dengan menguras cadangan devisa bukanlah jalan yang harus ditempuh secara terus menerus.

"Jadi pengendalian kinerja mata uang rupiah jika hanya mengandalkan devisa justru sangat potensial menggiring laju tekanan inflasi nantinya," ucapnya. 

Sehingga perlu ada rem lain yang ditarik yakni dengan menahan kinerja pertumbuhan ekonomi.

"Nah pendekatan moneternya adalah dengan menaikkan besaran bunga acuan. Jadi sekalipun resesi yang terjadi di banyak negara lain, bukan berarti resesi tersebut tidak bisa datang di negeri ini," tukasnya.

BERITA TERKAIT

Bisnis

Terkini

Tampilkan lebih banyak